Telah Berpulang Said Budairy, Si Tukang Organisasi

M. Said kecilDi lingkungan aktivis Nahdlatul Ulama (NU), H.M. Said Budairy bukanlah nama asing. Bersama Abdurahman Wahid, Fahmdi D. Saefuddin, Mahbub Djuanadi dan lain-lain, namanya populer sebagai salah seorang penggerak ‘Khittah NU 1926’ pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur, 1984.

Tapi sebetulnya, sebagai aktivis NU, nama H.M. Said Budairy sudah muncar sejak akhir tahun 1950-an. Ia ikut aktif mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Awal tahun 1960-an, ikut berjuang mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dan dialah orang yang mendesain lambang organisasi kemahasiswaan di lingkungan NU tersebut.

Senin, 30 Nopember 2009, saya dikabari bahwa pukul 11.05, hari itu, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sebetulnya saya tidak begitu kaget dengan berita ini. Sebab, saya tahu sejak bulan Puasa kemarin, kesehatan Pak Said –begitu saya memanggilnya– mulai menurun. Wajahnya sudah tidak segar, bicaranya mulai pelan, dan gerakan tubuhnya mulai melambat.

Tapi, Pak Said tetap bekerja seperti biasa. Awal bulan Puasa lalu, ia masih menjadi pembicara di kantor Duta Masyarakat, Jakarta. Seminggu setelahnya, ia menghadiri diskusi di kantor PP Lakpesdam NU. Ia hadir sebagai pendengar. Dan sebagai Ketua Komis Informasi dan Komunikasi di Majlis Ulama Indonesia (MUI), ia masih memimpin rapat-rapat.

Saya tidak tahu semangat macam apa yang menggelayutinya, sehingga ia bersedia datang di acara-acara kecil, padahal usianya juga sudah memasuki udzur, 73 tahun. Mungkin karena cintanya pada NU begitu mendalam. Mungkin juga karena hendak ‘pamit’ karena merasa dalam waktu dekat akan pergi untuk selama-lamanya.

Profil H.M Said Budairy memang profil organisasi, terutama di NU. Namanya tidak pernah lepas dari jenjang keorganisasi yang ada di NU. Mulai dari IPNU, PMII, GP. Anshor, hingga di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tapi, ia memang tidak pernah menduduki posisi puncak. Di PBNU, jabatan tertingginya hanya sebagai Wakil Bendahara (1984-1989). Semangatnya berorganisasi, membawanya ke kursi DPR-GR/MPRS (1963-1971) di usia muda, wakil dari Partai NU.

Pak Said dikenal pekerja keras, ulet, memperhatikan yang detail-detail. Oleh karena itulah, ia dijuluki ‘si tukang organisasi’. Di PWI Pusat, ia pernah menjadibat sebagai Ketua Departemen Pendidikan/Agama (1963-1967), Wakil Sekretaris Jenderal (1967-1970), dan Bendahara pada periode 1970-1973. Ia aktif juga di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (1973-1978)

Dan di Lembaga kajian dan pengembangan sumber daya Manusia Nadlatul Ulama (Lakpesdam NU), Pak Said adalah nama yang tidak boleh dilupakan dalam kesejarahan. Di sana ia menjabat sebagai direktur dari tahun 1987 hingga 1995. Dengan segenap kekurangannya, ia berhasil memapankan organisasi itu hingga kini. Tidak banyak lembaga di NU yang eksis macam Lakpesdam, hingga ke daerah-daerah.

Usia Pak Said dengan saya terpaut jauh sekali, selisihnya hampir separuh abad. Karena itulah, saya sebetulnya tidak dekat secara pribadi. Dengannya, saya baru berjumpa secara fisik akhir tahun 2006 di Palembang, pada acara Rapat Kerja Nasional Lakpesdam. Saya sering ketemu dengannya baru setahun ini, setelah saya berencana menulis biografinya.

Saya tertarik untuk menulis biografi Pak Said karena orang ini unik. Menurut saya, di kalangan Nahdliyin, ia termasuk golongan konservatif. Ia misalnya tidak suka dengan pernyataan Gus Dur bahwa NU itu Syiah kultural. Atau ia masuk menjadi aktivis MUI dari tahun 1995 hingga akhir hayatnya, padahal kalangan NU progresif rajin melancarkan kritikan tajam pada MUI. Dan bahkan, Pak Said tetap memilih Partai Persatuan Pembangunan, meskipun NU telah membikin Partai Kebangkitan Bangsa.

“Semula saya ada di dalam Partai NU. Ketika partai partai Islam harus bergabung di PPP, otomatis menggelinding ke PPP,” kata Pak Said pada saya.

Ada satu alasan lagi kenapa saya menggolongkan almarhum dalam kelompok konservatif, yaitu aktivitasnya yang tidak mau lepas dari kalangan Islam dan NU. Ia adalah seorang jurnalis sejak muda, sekolahnya pun tentang jurnalisme, yaitu di Perguruan Tinggi Jurnalistik Jakarta. Tapi ia tidak pernah bekerja di media massa yang bersifat ‘umum’, kecuali di SK Pedoman (sebagai Pemimpin perusahaan, 1973-1974) dan majalah Pantau (sebagai Ombudsman, 2001-2003). Selebihnya, sebagai wartawan, ia hanya bekerja di koran di lingkungan NU atau Islam pada umumnya. Sebut saja Duta Masyarakat, Pelita, Risalah, dan Warta NU. Kedudukannya sebagai anggota Lembaga Sensor Film (1999-2003) adalah representasi dari MUI.

“Saya tidak mau jauh-jauh dari ulama. Saya ingin mati bersama mereka,” begitu jawab Pak Said dengan mimik serius bahkan dengan mata berkaca-kaca. Pilihan ini bukan tanpa resiko. Resiko yang mudah dibayangkan bekerja dengan ulama adalah tidak mendapat gaji yang layak.

Di NU, Pak Said memang dikenal orang yang sangat sederhana. Tidak punya supir pribadi, pakaiannya ala kadaranya, dan rumahnya di Mampang tetap tak berhalaman, meski pernah menjadi Staf Khusus Wakil Presiden Hamzah Haz.

Tapi, meskipun konservatif, Pak Said tetaplah akomodatif. Ia juga bersedia menerima ide-ide baru. Terbukti misalnya ia diterima di majalah Pantau, sebuah majalah dari kelompok liberal. Bahkan Pak Said menduduki posisi bergengsi, yakni Ombudsman. Di sana tiap bulan Pak Said menulis selama dua tahun. Topiknya beragam jurnalisme, penerbitan, penyiaran, periklanan, dan lain-lain.

Pak Said juga dikenal sebagai orang tua yang tidak suka merecoki anak-anak muda NU yang ‘nakal’. Pak Said lebih suka diam saja. Di NU, sikap diam diartikan na’am (setuju). Sukutuhu idznuhu, diamnya adalah izinnya. Inilah salah satu yang banyak dipuji orang dari Pak Said. Ini tentu berbeda dengan beberapa kiai di NU yang mudah mencap tidak sopan, mencap liberal kepada anak muda yang kritis dan progresif.

Itulah sekelabat tentang H.M. Said Budairy, si tukang organisasi. Selamat jalan, Pak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: